Statistik Penelitian Action Research

Standar

Baiklah.. tulisan pendek ini tentang statistik penelitian.
Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan bila penelitian kita menggunakan angket.
Pertama kali, kita harus melakukan try out angket tersebut. Try out angket tersebut dilakukan baik pada angket yang dibuat sendiri maupun angket adaptasi.
Mengapa try out atau uji angket ini dilakukan?
Karena kita perlu tahu apakah angket tersebut valid dan reliabel untuk digunakan pada penelitian yang akan kita lakukan. Oleh karena itu, setelah try out dilaksankan, yang perlu kita lakukan adalah mengukur validitas dan reliabilitas aitem-aitem yang ada dalam angket tersebut menggunakan SPSS. Caranya silahkan googling.

Langkah kedua, memberikan angket pre-test sebelum perlakuan, dan angket post test setelah perlakuan. Setelah data pre-test dan post test didapat, lakukan uji normalitas.
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah persebaran data penelitian kita normal atau tidak. Jika sudah selesai uji normalitas, kita masuk langkah selanjutnya

Langkah ketiga, jika kita menggunakan dua kelompok (kontrol dan eksperimen), lakukan uji homogenitas. Caranya silahkan googling. Apabila hanya satu kelompok, maka tidak perlu uji homogenitas.
Uji homogenitas dilakukan untuk menguji apakah dua kelompok yang dijadikan subyek penelitian kita itu homogen (sesuai dengan kriteria).

Langkah keempat, penentuan analisis yang kita gunakan berdasarkan jenis data kita (parametrik atau non-parametrik).
Ada jurnal yang menyatakan bahwa penentuan parametrik atau non-parametrik berdasarkan pada uji normalitas saja. Ada juga yang menyatakan berdasarkan uji normalitas dan uji homogenitas.
Jika menganut pendapat pertama (penentuan didasarkan pada uji normalitas saja), maka apabila data kita normal, maka analisis yang kita gunakan adalah analisis parametrik. Apabila data kita normal dan tidak homogen, masih menggunakan analisis parametrik (karena syarat parametrik menurut pendapat ini hanya uji normalitas saja).
Sedangkan apabila kita menganut pendapat yang kedua (penentuan berdasarkan pada uji normalitas dan uji homogenitas), jika data kita normal dan homogen, kita menggunakan analisis parametrik. Dan ketika data kita normal tapi tidak homogen, maka kita menggunakan analisis non-parametrik.

Langkah kelima, apabila data pada akhirnya tergolong parametrik, maka analisisnya menggunakan anava.
Apabila datanya non-parametrik bisa menggunakan Mann-Whitney atau Wilcoxon. Mann-Whitney digunakan bila ada dua kelompok (kontrol dan eksperimen). Wilcoxon digunakan apabila hanya ada satu kelompok.

In sya Allah sampai di sini. Terima kasih pada narasumber Mbak Andi Diana Permatasari, S.Psi atas pencerahannya.

Jogja, 05 Agustus 2016
Catatan tesis, menuju lulus Mapro Psi.

Standar

bismillah.. materi mengenai SOAR untuk strategic planning ini saya sampaikan pada saat workshop di STKIP PGRI Trenggalek dan LBB Arsyad Trenggalek bulan Juli 2016 ini. Semoga bermanfaat. Read the rest of this entry

Ya itu, realita seringkali tak seindah harapan, part II

Standar

Kemarin, saya bertemu dengan seorang anak kelas 3 SMP yang baru dua bulan yang lalu operasi hernia. Sejak SD, dia pemain basket. Sampai dua bulan yang lalu, dia masih sangat aktif bermain basket.

Karena operasi tersebut, aktivitas basketnya berhenti total. Kemarin dia meminta pada orang tuanya untuk kontrol ke dokter, meskipun sebenarnya belum waktunya kontrol.

Barulah pada saat pertemuan itu, remaja ini menyampaikan bahwa dalam waktu beberapa hari ini dia harus ikut seleksi tim inti basket di pondoknya. Tim inti ini akan dikirim untuk lomba basket pelajar tingkat nasional tahun depan, dan lomba sebesar ini diadakan periodikal 10 tahun sekali. Kalau dia tidak ikut seleksi saat ini, dia harus menunggu 10 tahun lagi (dan saat itu dia sudah bukan pelajar tentunya).

Ini adalah impiannya sejak kelas 2 SMP. “Aku sakit hati banget kalau nggak bisa ikut seleksi. Untuk apa aku latihan tiap sore kalau akhirnya harus seperti ini?”

Saya katakan padanya, “Iya, saya mengerti. Saya tidak akan meminta kamu untuk ikut seleksi walaupun kamu sangat menginginkan itu, atau untuk tidak ikut seleksi karena kamu baru operasi. Begini saja, nanti saat bertemu dokter, kamu tanyakan pada dokter apakah kamu boleh main basket lagi. Kamu ceritakan pada dokter cerita yang sudah kamu ceritakan pada saya ini. Nanti kita dengarkan yang disampaikan dokter.

Inti dari penuturan dokter “batas minimal waktu untuk dapat beraktivitas berat pasca operasi adalah 100 hari. Setelah itu biasanya jarang ada keluhan. Kalau kurang dari itu, sya tidak berani tanggung jawab. Saya katakan 100 hari itu saya punya bukti kuat dari riset. Resiko yang bisa terjadi kalau kamu nekat, bisa jadi luka bekas operasi kamu terbuka lagi, atau bisa jadi kambuh hernianya sehingga harus dioperasi lagi. Dst.”

Dia juga bicara banyak dengan kakak lelakinya walaupun melalui telepon. Begitu dia terlihat tenang dan sudah sholat, saya dekati dia dan saya katakan padanya, “Boleh saya cerita sesuatu?”

Ketika dia tampak mengijinkan, saya katakan, “Saya mengerti yang kamu rasakan. Saya juga pernah mengalami hal yang sama, walaupun konteksnya berbeda. …. Kecewa memang, sakit hati juga iya. Bisa jadi butuh waktu bertahun-tahun untuk mengobati hal itu. Tapi ya memang begitu, realita seringkali tak seindah impian. Isi waktu dengan kegiatan lain yang positif. Itu akan membantumu mengobati kekecewaanmu nantinya. ….”
Dia mendengarkan, lalu berkata, “Apakah sampean mengatakan itu karena sampean psikologi?”
“Ya, saya mengatakan itu karena saya psikolog, dan karena saya pernah mengalami hal yang sama walaupun konteksnya berbeda. Seringkali realita tak seindah harapan”.

Dia remaja yang sama dengan anak yang berdialog begini pada saya 2,5 tahun lalu.

Waktu itu, ibunya meminta saya untuk bicara padanya terkait keinginannya memiliki smartphone. Kala itu dia ingin punya smartphone seperti teman-temannya, sedangkan dia sebentar lagi masuk pondok. Orang tuanya pada saat itu bukan pengguna smartphone. Keluarga mereka familiar dengan laptop dan internet, tapi tidak dengan smartphone.
Saya katakan waktu itu, “Kamu kalau membeli barang, sesuaikanlah dengan yang mendukung cita-citamu.”
Dia yang marah karena merasa dihalangi mengatakan pada saya, “Kalau begitu, tolong pikirkan cita-cita untuk saya.”
“Cita-cita untuk tiap orang itu beda. Orangnya sendiri yang harus memilih.”
Balasnya, “Ya kakak saja yang pikirkan. Kakak kan sudah S2. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau tidak untuk berfikir?”

Seringkali menangani anak-anak itu memang penuh kejutan. Demikian juga proses psikolog.

Trenggalek, 29 Maret 2016

WARISAN YANG MEMPERKAYA

Standar

Judul yang provokatif, tapi memang begitu adanya. Minggu lalu sewaktu saya di Surabaya, saya merengek-rengek pada suami untuk membeli sebuah rak. Sampai akhirnya suami luluh dan bersedia mengantar saya untuk membeli sebuah rak. Jangan anggap tanpa alasan saya meminta. Karena kamar kos di Surabaya kecil-kecil dan barang banyak menumpuk di lantai, saya merasa kami sangat butuh sesuatu yang bisa membuat barang-barang di lantai itu dapat ditata bertingkat.

Yah, sebuah rak lah solusinya.

Tempo hari, saya dan suami datang ke sebuah toko mebel di Pasar Kebalen. Waktu itu kami membeli kasur Palembang dan sebuah kursi plastik. Pemiliknya seorang Cina, dibantu istrinya, dan dua orang anaknya. Anak yang pertama perempuan, usianya mungkin sekitar 30an. Anak yang kedua lelaki, usianya mungkin sekitar belasan sampai 25an.

Kenapa kami memilih toko itu?

Karena toko itu memberikan harga pas yang tidak mahal tanpa banyak menawar.

Beberapa hari kemudian kami ingin membeli rak. Kami sudah tahu harga di toko mebel Kebalen itu, tapi kami susuri jalan daerah Slompretan dulu. Mencoba peruntungan siapa tahu ada toko rak berbahan carbot yang kami cari. Ketemulah satu toko. Sayangnya toko itu tidak menjual secara ecer, hanya melayani partai besar. Yang berinteraksi dengan kami “asisten”nya. Sedang pemiliknya yang seorang Cina juga duduk di sampingnya. Mungkin mengawasi.

Sewaktu tahu kami tak bisa membeli satuan, kami ucapkan terima kasih dan beranjak pergi. Apa yang terjadi? Si pemilik toko yang Cina itu berjalan dengan tongkatnya ke arah kami dan berkata “Kalau mau beli ecer, bisa di toko anak saya. Anak saya tokonya di daerah Kerta Jaya. Itu yang jembatan ke bla bla bla..”. Suami saya yang tahu itu arah-arahnya. Saya yang pendatang musiman Cuma menatap ke suami saya, berharap suami tahu apa yang disampaikan ibu itu.

Sesudah sampai di parkiran, saya tanya, “Dimana itu Kerta Jaya, mas?”

“Lumayan jauh dari sini. Mau ke sana ta?”

“Nggak usah. Yang di Kebalen aja.”

Kembalilah kami ke toko mebel Kebalen itu. Kali kedua kami datang ini, anak lelaki si pemilik toko sedang duduk-duduk di dalam toko sebelah depan. Begitu kami datang, si mas Cina – maaf saya sebut begitu, karena kali ini saya menandai orang tanpa nama juga – beranjak dan menanyai kami. Dimintanya kami menunggu sebentar sebelum ibu pemilik toko keluar menemui kami.

Singkat cerita setelah kami memutuskan mana rak yang akan kami beli, si Ibu menginstruksikan pada si mas Cina membuatkan nota. Dan kami bayarlah padanya sesuai harga yang tertera. Tempo hari, si mbak Cina yang membuatkan nota dan melayani pembayaran. Kali ini adiknya, meskipun di mbak Cina juga duduk di kursi kasir.

Lalu hari ini, di warung penyetan sebelah kosan, saya melihat anak remaja si ibu penjual membaca nota pesanan dan membuatkan sesuai dengan yang tertulis. Lalu anak balita si ibu penjual tiba-tiba mendekat dan meraih kantong pesanan saya. Kemudian si Ibu bertatapan dengan anak balitanya dan berkata sambil tersenyum, “Kasih ke mbak yang itu ya.” Si adik balita mengulurkan kantong itu pada saya, dan menerima uang yang saya ulurkan. Ibunya menyambut uang yang diserahkan oleh si adik balita.

Saya jadi berfikir, si anak remaja meniru yang dilakukan ibunya. Si anak balita demikian juga. Saya teringat kalau saya pernah makan di suatu warung penyetan yang ternyata pemiliknya adalah orang tua dari si Ibu penjual penyetan di samping kos saya. Teringat juga cerita si Nenek penjual penyetan bahwa anak-anaknya juga menekuni profesi yang sama, penjual penyetan, walaupun lokasinya berjauhan.

Saya jadi teringat pedagang Cina pemilik toko mebel  di Pasar Kebalen dan pedagang Cina di toko Slompretan. Saya jadi berfikir bahwa si Bapak Cina di Kebalen sedang men”training” anak-anaknya untuk mengelola toko. Mengajari bagaimana melayani pembeli, melakukan transaksi jual beli, dan lain-lain. Sedang si Ibu Cina di Slompretan sudah selesai men”training” anaknya tentang pengelolaan toko, kemudian membuka toko di daerah Kerta Jaya untuk dikelola dan dikembangkan oleh anaknya. Bisa jadi, suatu saat nanti saat di mbak Cina dan mas Cina Kebalen sudah selesai dengan training mengelola tokonya, Bapak Cina Kebalen akan membukakan untuk masing-masing mereka toko untuk dikelola sendiri.

Saya berfikir, anak remaja Ibu penjual penyetan dan adiknya, sangat mungkin suatu hari nanti mewarisi ilmu “penyetan” dan membuka warung mereka sendiri suatu hari nanti. Sama seperti yang diterapkan dua pedagang Cina yang saya datangi.

Saya jadi teringat dengan riwayat Sate Bendo yang hari ini tersebar kemana-mana. Kata Bapak saya, dulu yang punya warung sate paling enak di Trenggalek itu namanya Pak itu – kali ini saya lupa namanya. Profesi anak-anak pak sate ini ya membuka warung sate juga walaupun tempatnya menyebar. Sampai pelayan warung-warung sate itu pun ketika berhenti jadi bekerja di warung pak sate, memilih profesi sebagai tukang sate juga dan melabelinya dengan “Sate Bendo” Pak Anu.

Saya jadi berfikir, orang-orang ini, baik si Ibu penjual penyetan, mewarisi anak keturunannya dengan ilmu untuk bekerja. Walaupun nantinya tak memberikan harta, mereka sudah bisa menafkahi diri dan keluarganya in sya Allah.

Memang betul warisan ilmu itu lebih mahal daripada warisan harta.

Saya jadi berfikir, usaha swasta memang lebih dapat diwariskan pada anak. Baik bendanya maupun ilmunya. Yah, saya jadi ingin mewariskan sesuatu yang seperti itu pada anak keturunan saya kelak.

Bagaimana dengan Anda?

 

Jogja, 26 Februari 2016

Harga Rumah, Credit man, dan Inflasi

Standar

Setelah melalui proses yg tidak sebentar untuk survei rumah dan tanah di daerah mojokerto, sidoarjo, gresik (surabaya agak dikesampingkan krn harga tanah rumah sudah luar binasa), kemarin suami mencoba peruntungan dengan menawar sebuah rumah seharga 200 jt di daerah G sidoarjo sana.
Si pemilik sama sekali tidak mau ditawar sedikitpun. Luas tanahnya 90, luas bangunan 21. Kengototan si penjual mengusik rasa kepo saya kok orangnya sampai segitunya. Dan alhasil ketika semalam tidak bisa tidur, saya membuka olx.com dan iseng melihat kisaran harga tanah kavling terbaru daerah G sidoarjo tersebut.

Kavling 72 m2 harganya 70 jt nego, berarti permeter 1 jt. Itu petok D, karena kavling baru. Berarti rumah G itu, harga tanahnya saja 90 jt. Harga rumahnya 110 jt dengan luas 21?

Emm,, sekitar 2-3 bulan yg lalu suami saya tanya harga tanah di daerah kota di mojokerto, tanahnya 69 harga 65. Kalau dibangunkan rumah sekalian seingat saya 135 atau 145 gitu. Ukuran 30 m2 rumahnya. Berarti bangunan rumahnya sekitar 70-80.

Dibawa ke daerah G sidoarjo, ya harga 70-80 ukuran jadi tipe 21 itu lah. Jd harga total 170an lah klo harga sekarang..
Plus tarif merubah petok D jd SHM jadi 180. Itu hitungannya sudah mahal.

Menurut saya ya…

Berarti masih ada 20 jt selisihnya. Kenapa ada 20 jt tambahan ini?

Gaya hidup masyarakat sekarang dalam pemilikan properti adalah gaya hidup “kredit”. Kredit berarti penambahan bunga setiap tahunnya. Saya pernah minta selebaran KPR bank syariah A, ada penambahan bunga kira-kira 8 jt dalam setahun. Pertanyaannya, apakah orang tersebut memiliki propertinya dengan cara kredit? Berapa tahun jangka kreditnya? Dua hal ini akan meningkatkan harga properti tersebut yang mungkin dulu (jika dibayar cash), harganya 160an jt.
Saya berfikir harganya dulu sekitar 160 bukan tanpa alasan. Tahun lalu bulan apa saya lupa, suami mengajak saya datang ke kantor sebuah developer di sidoarjo. Dalam brosur tersebut diterakan, harga sebuah rumah cash 200 jt kurang sedikit. Harga rumah total dengan akad kredit 15 tahun harganya menjadi 300 jt sekian.

Alamaaaakkk. Banyak betul naiknya. Tapi menjadi wajar saat tambahan bunga di bank sekitar 8 jt dalam setahun.

15 tahun lagi, rumah itu akan dijual pemiliknya paling tidak dengan harga 350 jt.

Hahaha,,, saya jadi berpikir, mungkin gaya hidup “credit man” memiliki peran signifikan dalam meningkatkan inflasi.

Menyebabkan harga properti tidak mau turun satu anak tangga sekalipun.

Dan bank apabila menerapkan suku bunga yang terlalu tinggi akan mendongkrak inflasi. Dan para penabung yang meminta bank memberikan bagi hasil atau bunga yang besar juga ikut mendukung inflasi.
Lalu saya tidak mau menabung di bank? Tentu menabung di bank, tapi saya memilih bank syariah yang in sya Allah menjaga diri sedekat mungkin dengan syara’. Dan bank memudahkan kita untuk tidak perlu membawa terlalu banyak uang.

Apakah Anda anti kartu kredit? Sampai detik ini terpikirkan saja tidak untuk menggunakan karru kredit.
Tanggapan Anda tentang memiliki sesuatu dengan cara kredit? Tidak mendukung, tapi juga tidak mengatakan tidak akan kredit untuk sesuatu yang nilainya sangat urgen seperti rumah tinggal.

Dan apakah Anda memilih memiliki properti rumah tinggal dengan cara kredit? Tunggu, kalau yang ini saya akan rundingkan dulu dengan imam rumah tangga saya, Herdian Akbar Yanuari. Bagaimana sayang….? Hehehe.
Biar pak imam saja yang jawab.

Jogjakarta, 12 Februari 2016

Setitik Noktah Beringin

Standar

Oleh : Jayaning Sila Astuti

Aku ingin jadi penulis yang punya banyak karya, yang berpotensi, yang tenar, yang…,  dan seterusnya.

Aku ingin jadi penulis yang handal. Sumpah. Dan dengan tujuan itu, malam ini kusiapkan beberapa lembar kertas di atas meja belajarku, penggaris panjang mika, dan satu pena biru yang baru tadi sore kubeli dari toko di seberang jalan.

Sudah kukunci kamar rapat-rapat. Di pintunya kugantungi papan karton besar  ukuran A1, bertuliskan “SEDANG ISTIRAHAT, TAK BISA DIGANGGU”. Jendela yang memisahkanku dengan pekat malam kubuka lebar-lebar, agar angin leluasa masuk dan membawa keharuman bunga sedap malam yang menguar dari kebun belakang. Kukondisikan ini untuk menyambut kedatangan sebuah ide cemerlang. Aku sungguh-sungguh ingin melahirkan sebuah karya.

Jam berdentang sembilan kali menandakan tepat dua jam aku berdiam di kamar ini. Tak ada satupun ide melintas. Pikiranku buntu benar.

Mungkin penulis-penulis besar itu terpana, dalam tempo dua jam tak ada satu titikpun tergambar di kertas putihku. Mungkin saja mereka tak percaya, tapi ini kenyataan, bukan isapan jempol atau sekedar gosip yang kata orang makin digosok makin sip. Tanyakan saja pada pena biru yang sedari tadi kumainkan dan kuputar-putar tanpa tujuan.

Ah menulis, betapa sulitnya. Angin malam yang dingin menusuk tulang juga menjadi saksi kebuntuan ide di pikiranku.

Kulipat tangan di atas meja, kutangkupkan wajah di atasnya. Merenung lagi. Tolong tunjukkan Tuhan, aku harus mulai menulis dari mana. Buku-buku tentang cara cepat mendapatkan ide, cara menulis artikel, cara mudah menulis ala bla..bla..bla.., berjajar rapi di rak bukuku, malam ini mereka sedang tak bisa membantu.

Sang waktu yang begitu berharga serasa berlalu begitu saja.

Tiba-tiba, aha! Satu lampu pijar menyala di otakku. Aku ingat kata seorang pakar, bahwa tulisan seseorang itu biasanya terilhami dari apa yang dibacanya. Ya,ya, aku sangat suka membaca, dan banyak hal yang menurutku menarik. Maka itulah yang harusnya dijadikan ide bagi tulisan perdanaku. Genggaman jemariku pada sang pena menguat. Tekadku membulat. Ya, aku akan mulai menulis.

Dan… Lagi, genggamanku melemah.

Kata orang, penulis adalah perenung. Pemikir yang mengabadikan zaman dalam tulisan yang apik, sehingga lebih mudah diterima orang. Memangnya –kutanyai diriku sendiri- renungan macam apa yang ingin kutunjukkan pada orang-orang?

Aku terus menerus bertanya dan berlogika dengan pikiranku hingga tak sadar kapan kelopak mataku menutup. Tak tahu pula kapan kesadaranku melayang, masuk ke dunia tersembunyi yang menyimpan mimpi dan keinginanku yang terlupakan.

****

“Fai, bangun! Sudah siang”. Satu suara nyaring menyebut namaku. Pintu kamar digedor, kututup telinga rapat-rapat.

“Bangun, sekolah!”. Suara itu nyaring memenuhi tiap rongga kamarku. Jengkel, kusahuti, “Berisik, masih pagi!”

“Fairuz……..!” lagi, suara itu menggelegar, berbarengan dengan gedoran di pintu. Masku memang selalu menyebalkan.

Malas-malasan kuangkat kepala. Mataku menyipit karena silau, tanganku menggapai kesana memari, mencari dimana jam wekerku berada.

Kudapatkan ia di ujung meja, merapat ke tembok. Kuraih, kudekatkan ke wajahku. Kupelototi lama seakan tak nyata ketika jarum panjangnya bertengger di angka enam, dan jarum pendeknya terkulai pasrah diantara angka enam dan tujuh.

Aku tergeragap. Sial ! Kesiangan lagi.

Terburu-buru aku bangkit, hampir terjungkal dari kursi. Lututku membentur kaki meja.

“Au…!”.

Mendadak gedoran di pintu berhenti. Dia tahu kalau aku sudah bangun.

Sekilas kulihat lembaran kertasku di atas meja. Kosong melompong. Tak ada apapun di sana. Terserah. Pagi ini aku sedang tak ingin berurusan denganmu, kertas putihku.

Kusambar seragam sekolah, handuk, sepotong kaus dalam dan celana, lalu lari ke kamar mandi tunggal di samping kamar ibu.

Dipakai !

Panik, kugedor pintunya.

“Sabar, baru masuk!”, sahut orang di dalam. Masku..

“Mas masih lama?” Kutanyai ia dengan suara semelas mungkin, setengah ragu.

“Baru masuk! Dilarang berisik.”

“Mas, cepat! Aku bisa terlambat.”

“Urusanmu. Tak ada hubungannya denganku.”

“Mas!” seruku setengah membentak.

“Makanya bangun pagi.” Suara dari dalam kamar mandi tak kalah keras.

Pertengkaran khas tiap pagi. Dan kalau sudah begini, dia pasti akan berlama-lama di kamar mandi.

Menit-menit berlalu tak terhitung, kakakku tak juga keluar. Aku tak sanggup lagi menunggu. Kuletakkan seragam di kursi depan kamar mandi, lalu aku lari ke kamarku. Buku pelajaran hari ini dan semua alat tulis, serabutan kumasukkan dalam tas. Lembaran kertas putih di atas meja, kulipat jadi dua, kuselipkan diantara buku-buku.

Kutatap sekeliling, memastikan tak ada yang tertinggal. Pandanganku tersandung di pinggiran kasur, bertumpu pada sarung dan sajadahku. Cepat-cepat aku menunduk. Maaf Tuhan, pagi ini aku tak sempat laporan. Aku tahu Engkau Maha Bijaksana, jadi tak apa-apa khan kalau laporannya kugabung dengan yang nanti siang? Aku sedang berkejaran dengan mataharimu yang tak mau berhenti berlari.

Kusandang tas, kemudian beranjak pergi.

Sekilas kulihat, pintu kamar mandi masih tertutup. Tak sempat mandi, aku lari ke dapur. Menyerobot Ibu yang sedang mencuci sayuran, kubasuh wajah. Ibu hanya geleng-geleng kepala.

“Bu, aku ganti baju di kamar Ibu ya. Mas mandinya lama.” Ibu mengangguk.

Semua serba kilat.

“Fai, aku sudah se…ha!!?” Kakak lelakiku terpana. Gerakan mengeringkan rambut cepaknya berhenti tiba-tiba. “Kamu tidak mandi?”

“Nanti. Ibu, aku berangkat.” Kusambar tas, lalu kukeluarkan sepeda.

“Fairuz, sarapanmu!” Teriakan Masku sempat menyusup ke sela-sela daun telingaku, kuabaikan.

Jarak sekolah yang cukup jauh memaksaku mengayuh sepeda kencang-kencang. Sampai di mulut gang, kubelokkan arah sepeda ke kiri, masuk ke gang-gang sempit yang jarang dipergunakan orang. Sebenarnya, jarak tempuh jadi lebih panjang. Tapi itu lebih baik daripada terjebak macet di jalan raya, yang pastinya akan lebih banyak waktu yang terbuang.

Pikiranku terfokus pada bersaing adu cepat dengan sang waktu, hingga tak sadar ada sepeda motor berkecepatan tinggi melaju lurus ke ke barat. Sedangkan aku berencana memotong jalan dengan membelok ke timur. Dan, cit…..! Motor itu direm mendadak hanya beberapa centi dariku. Orang itu melepas helmnya.

“Ini bukan jalan moyangmu!” bentaknya.

Sejenak aku sempat tak sadar dengan yang sedang terjadi. Bentakan orang itu terasa hanya singgah, kemudian berlalu.

“He Dik, kalau di jalan itu jangan melamun.”

“Maaf  Mas, saya tidak sengaja.”

Aku nyengir. Sudah ngebut, masih marah-marah. Tapi sebenarnya, aku juga salah. Aku ngebut juga. Sudah, lupakanlah.

“Maaf  Mas, saya terburu-buru sekolah. Permisi.”

Tak kupedulikan orang itu geleng-geleng kepala melihatku ngebut (lagi). Aku harus cepat. Yah, semoga saja tidak terlambat.

Ternyata, nasib berkata lain. Sesampai di sekolah, gerbang sudah dikunci. Halaman sekolah sepi. Satpam-satpam tak ada di pos jaganya. Pasti sedang keliling, sekarang. Dan sudah pasti kembali ke posnya satu jam lagi, tepat saat jam pelajaran ketiga dimulai.

Aku tersenyum. Kata pepatah, selama ada kemauan, selalu ada jalan. Selama tetap tenang, solusi pasti datang. Berbekal ketenangan, ide cemerlang takkan segan bertandang. Solusi apakah ?  Apalagi kalau bukan lompat pagar. Aku nyengir.

Sepeda kularikan ke rumah seorang teman yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari sekolah. Kutitipkan pada Ibunya, sambil aku beristirahat.

Setengah jam kemudian, aku kembali ke sekolah, langsung menuju sisi pagar yang paling aman. Tak ada orang di sekitar pagar ini. Aksipun dimulai. Satu-persatu celah gerbang kupanjat, dan…

“Fairuz!” Sosok yang paling tak ingin kulihat menunggu di bawah pagar. Kapan munculnya, batinku.

“Iya Pak!” Aku nyengir.

“Ikut Bapak ke ruang BP, sekarang juga.”

Tak ada ampun. Aku digiring seperti tawanan kalah perang, yang menunduk dalam diam. Beberapa guru yang kebetulan berpapasan, menyempatkan menatapku. Mungkin ingin melihat wajah pasrah terpidana panjat pagar sekolah yang cukup meresahkan. Kenapa? Karena tak pernah tertangkap. Mungkin juga menyayangkan nasib sang juara kelas, yang ternyata masih terus berulah.

Aku diceramahi habis-habisan. Reputasi baik dan burukku diperbandingkan. Dan vonisnya, lari keliling lapangan bola sepuluh kali.

Beliau menuliskan daftar kesalahanku di papan white board berukuran sedang, kemudian menentengnya sembari menggiringku ke lapangan.

Di bawah pohon beringin di sebelah selatan lapangan, beliau menggantungkan papan white board di dahannya. Kata beliau, “Fairuz, Bapak yakin kau anak baik. Jalankan hukumanmu dengan jujur.” Beliau tersenyum, menepuk-nepuk pundakku. “Kalau sudah selesai, datanglah ke ruangan Bapak. Nah, Bapak tinggal dulu.” Beliau tersenyum, lagi, kemudian pergi.

Tasku kuletakkan di bawah pohon, diantara akarnya yang bertonjolan. Aku siap beraksi.

Pada putaran pertama kuikrarkan, “Beringinku sayang, lihatlah, lapangan ini akan kutaklukan. Aku sama kokohnya denganmu.” Di putaran ketiga kukatakan, “Kehidupan adalah milik orang-orang yang bersemangat. Aku pasti bisa”. Putaran kelima kunyatakan, “Demi klub sepak bola Indonesia.” Di putaran ketujuh kukatakan, “Demi….kianlah”.

Di putaran sembilan, kubatin “Lapangan sialan….!”, sambil terus berlari.

Selesai putaran kesepuluh, keringatku berleleran, bauku tak karuan. Aliran darahku bersicepat, seperti ikut perlombaan lari.

Dengan langkah gontai kudekati pohon beringin itu. Kusandarkan punggung, kubuka dua kancing teratas seragamku, kuselonjorkan kedua kakiku. Nafasku cepat, berhembus satu-satu.

Aku teringat kertas putihku. Kuambil ia, kuhamparkan di pangkuan. Kupandangi lekat-lekat kertas kosong itu.

Menulis. Ah, betapa sulitnya.

Kuraba akar beringin di samping kanan dan kiriku. Kutanyai ia, “Hei beringin tua, tak inginkah kau berbagi sesuatu denganku? Coba katakan apa yang harus kutuliskan? ” Ia diam saja.

Ayolah Fairuz, aku balik berbicara dengan hatiku, ide itu ada dimana-mana. Pengalamanmu pagi inipun bisa kau jadikan bahan cerita. Dari ide yang tak mau mucul ketika kau menunggunya, pagimu yang berantakan, hampir tabrakan, hingga lari keliling lapangan karena ketahuan terlambat dan panjat pagar. Pasti tidak sulit. Kau hanya harus berfikir sedikit lebih dari biasanya.

Aku makin larut dengan pikiranku ketika tiba-tiba, Pluk! Satu buah beringin jatuh ke kertas putihku, meninggalkan setitik noda disana.

Aku tersenyum. Hei beringin tua, ternyata kau bisa bicara juga. Kau menantangku rupanya. Ya, baiklah. Hmm…jika kau saja berani menorehkan sebentuk tanda, kenapa aku harus takut membuat titik yang sama.

Kugambar sepuluh titik di samping noda itu, lurus. Dan kutuliskan “SELESAI” besar-besar di tengah bawah kertas putih itu.

Inilah karya pertama yang idenya kutunggu semalaman. Ternyata malah tercetus di bawah beringin ini, bukan di kamar yang kuatur sedemikian rupa demi lahirnya sebuah karya.

Dan inilah sang karya pertama, kenang-kenangan tentang keberanian satu buah beringin dalam melangkahi sang makhluk ciptaan tersempurna yang mampu berpikir tapi terlalu takut untuk coba melangkah.

Pagi ini, sudah kutemukan jawabannya.

SELESAI

* Penulis adalah pegiat di UKM Penulis Universitas Negeri Malang

KONSELING DENGAN TUHAN

Standar

Ketika keadaan terasa makin berat untuk dihadapi, wajar bagi kita ingin masalah itu segera terselesaikan. Yang tidak wajar adalah kalau kita diam saja.

Pertanyaannya, bagaimana menyelesaikannya? Apakah saya bisa mencari sendiri caranya, ataukah saya sebaiknya bercerita pada teman dekat dan meminta sarannya, atau bagaimana? Apa yang harus saya lakukan?

Saat kita punya hubungan yang dekat dengan keluarga, bisa jadi bercerita pada keluarga merupakan solusi yang baik. Jika tatanan dalam keluarga sangat hierarkikal, bisa jadi bercerita pada teman baik jadi solusi. Namun jika kondisinya seperti ini : kita sedang di perantauan, otomatis jauh dari keluarga, lalu orang yang ada di sekelilingnya menuntut kita untuk melakukan A B C yang banyak di antaranya di luar kemampuan, dan teman yang dirasa nyaman berbagi cerita berada nun jauh di sana, apa yang sebaiknya kita lakukan?

Bisa saja kita menelepon orang tua lalu bercerita yang sedang terjadi. Tapi apa orang tua tidak akan merasa cemas luar biasa? Bisa jadi orang tua malah tidak tenang. Atau pada teman, tapi apakah teman tidak akan salah persepsi tentang kita. Bisa jadi si teman malah menganggap kita sebagai si pengeluh, atau apa, atau apa. Sebenarnya reaksi orang tua atau teman yang seperti itu wajar, karena mereka tidak paham kondisi riilnya.

Memangnya bagaimana cara supaya mereka paham kondisi kita?

Orang psikologi akan familiar dengan ini : dalam tahapan konseling, sebelum klien mau bercerita tentang permasalahan yang dihadapi, konselor akan menjalankan suatu tahapan yang namanya building rapport. Atau tahap dimana konselor menciptakan suasana nyaman bagi si konselor maupun klien, yang dalam suasana tersebut tercakup rasa trust, rasa dihargai,  rasa diterima apa adanya, tidak dihakimi, serta rasa dimengerti.

Dalam situasi konselor dan klien, yang membangun suasana adalah konselor sebab konselor yang butuh untuk tahu supaya dapat membantu. Konselor secara sadar menempatkan dirinya pada posisi aktif, dia yang harus mengendalikan stimulus-stimulus sehingga proses dapat berjalan sebagaimana yang direncanakan.  Sedangkan dalam situasi ini, kita yang minta tolong dan kita yang menginginkan supaya pada saat berbagi cerita, orang yang diberi cerita memahami kita dan kondisi kita sepenuhnya.

Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?

Ya karena kita yang ingin didengarkan, kita yang mengerti apa yang kita butuhkan, maka kita harus menyiapkan dia supaya nantinya bisa merespon kita sesuai dengan yang kita inginkan. Kata kuncinya : saya yang menyiapkan dia.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya menyiapkan dia? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan dia?

Pertanyaan poin pertama sama jawabannya dengan ketika kita bertanya cara menyiapkan seorang psikolog. Dan ketika ditanyai berapa lama waktunya, ya kurang lebih waktu yang dibutuhkan seorang calon psikolog untuk mempelajari skillnya. Itu penyiapan yang sempurna. Namun ada cara penyiapan lain yang lebih singkat, yaitu dengan bercerita padanya setiap runtutan dari peristiwa dalam hidup kita. Pertanyaannya, apakah ada orang yang mau sesabar itu mendengar?

Tidak ada jaminan.  Ya sudah, datang saja ke psikolog yang memang sudah disiapkan untuk mendengar dan membantu mengurangi beban pikiran perasaan. Tapi, tidak di setiap kota psikolog ada. Dan lagi, kalau pinginnya beban itu diringankan saat ini juga sedangkan dengan si psikolog belum tentu langsung bisa ditemui saat ini, apa yang harus dilakukan?

Ya namanya juga manusia, meskipun psikolog khusus disiapkan untuk membantu meringankan beban orang lain, ia juga punya urusan sendiri.

Kalau sudah begini, harus bagaimana lagi….?

Mau minta tolong saja kok susah betul..

Hahaha, Cuma bisa tertawa. Saya pernah mengalami itu. Dan di puncak pencarian saya tentang siapa yang bisa menolong saya, saya teringat omongan seseorang tentang keberadaan Tuhan yang bahkan lebih dekat daripada urat leher kita. Lalu saya teringat, Tuhan itu tidak pernah tidur. Ia mengamati manusia setiap waktu. Ia tahu kondisi masalah kita dari awal hingga akhir.

Jadi, bagaimana kalau kita konseling dengan Tuhan saja?

Karena Tuhan melihat semua yang dilakukan manusia, kita tak perlu menyiapkan Dia untuk menerima kita. Karena Ia tahu semua yang kita inginkan, kita tak perlu mengungkapkan padaNya apa yang kita inginkan. Dan karena Ia Maha Bijaksana, kita tak perlu takut ia akan menjudge kita saat kita tak sanggup menanggungnya.

Begitulah manusia. Yang dicari untuk memberi solusi adalah yang terdekat, dan yang terlihat. Dan ketika yang terlihat dan terdekat itu tak ada, barulah berpaling pada yang tak terlihat : Tuhan. Padahal Tuhan itu dekat, hanya saja memang Ia tak terlihat.

Barangkali ada juga hubungannya dengan ulah manusia yang ‘mewujudkan’ Tuhan yang tak berwujud, karena hakekatnya manusia adalah lebih yakin pada yang ada daripada yang tidak ada.

Memangnya bagaimana caranya melakukan konseling dengan Tuhan?

Sigmund Freud dan ahli-ahli terapi menerapkan  prinsip ‘aturlah klien pada kondisi nyaman sebelum memulai sesi terapi’. Maka itulah yang pertama kali sebaiknya kita lakukan, kita sebagai klien menempatkan diri kita pada posisi tubuh, tempat, situasi, yang paling membuat kita nyaman. Dan aman. Lalu katakan padaNya, ‘Tuhan, saya ingin curhat’.

Lalu katakanlah apapun yang ingin dikatakan. Kalau merasa muak, maka katakan muak. Pada seseorang, atau beberapa orang, atau apa, katakanlah tanpa dibatasi. Kalau memang ingin melakukan pembalasan, maka katakan saja ingin membalas. Membenci. Atau ingin mengikrar sesuatu, ya dikatakan saja. Apapun.

Tuhan itu pendengar yang baik. Maha Mendengar. Maka berceritalah apapun, dan Dia tidak akan pernah membukanya.

Kalau dalam ajaran agama yang saya anut, berdoalah pada Tuhan dengan doa yang baik.

Betul sekali. Tapi itu kalau konteksnya berdoa. Namun, kali ini tujuan kita adalah konseling, ingin bercerita, bukan berdoa. Dan saat bercerita – dalam meringankan beban hati – kita bebas norma. Sama dengan konsep konseling yang bebas norma.

Sebab bisa jadi, kemarahan, kekesalan, akan hilang setelah dikeluarkan. Atau, bahkan mungkin, kita menemukan sendiri solusinya saat emosi yang menjadi ‘gumpalan pemberat’ itu sudah dibuang.

Dan itulah salah satu kebaikan hati Tuhan : Ia adalah pendengar yang sangat baik.

Ia mendengarkan semua keluh-kesah kita, dan memberikan kita kesempatan seluas-luasnya untuk merumuskan sendiri solusinya.

Lalu, apakah masalah yang kita hadapi akan selesai setelah melakukan konseling dengan Tuhan?

Tidak, sebab sesi ini hanya untuk meringankan.

Kemudian, harus bagaimana lagi?

Tadi, sewaktu kita berkonseling dengan Tuhan, pasti tercetus satu dua atau beberapa hal yang menurut kita bisa memperbaiki kondisi. Tuliskan, lalu analisis efektifitasnya. Kemudian jalankan.

Terlihat kecil sekali ya manfaat konseling?

Kalau kecil, ya tidak usah dilakukan saja kenapa?

Coba saja, kalau punya masalah dan masalah itu terasa sangat berat, tidak usah bercerita tapi langsung selesaikan sendiri. Seperti itu berulang kali. Yakin bisa berlaku seperti itu seumur hidup?

Kalau yakin, lakukanlah.

Saya Cuma mengingatkan : saat nanti merasa buntu dan tak seorangpun peduli, ingatlah : Tuhan adalah pendengar yang baik. Sangat baik.

 

Balikpapan, 30 Desember 2013