Rejeki dan Bersyukur

IMG_20180113_191348_234Beberapa waktu yang lalu saya pernah membaca sebuah artikel hasil wawancara dengan seorang dokter.

Satu perkataan si dokter yang saya ingat betul ‘Saya memang berencana melanjutkan kuliah di luar negeri. Kalaupun sekarang masih terhalang sehingga saya tidak bisa kuliah di sana, nggak masalah. Kalau saya masih punya jatah sepiring nasi aja, saya belum akan mati sebelum saya makan itu jatah sepiring nasi saya. Alhamdulilah, kesampaian juga kan saya kuliah di sana.’

Yap, itulah rejeki. Sudah dijatah masing-masing.

Rejeki itu tidak tertukar. Rejeki itu tidak mungkin salah mendatangi.

Kalau kata suami saya tentang rejeki-rejeki ini, ‘Rejekinya ya sampai di situ aja’.

Kata saya, ‘Iya bener, rejeki dia tentang itu sampai di situ. Allah kasih rejeki yang lain buat dia.’

Contohnya, rejeki kami dalam hal punya anak baru sampai hamil kemudian keguguran. Ya memang baru sampai di situ jatah saya hari ini. Tapi Allah beri kami rejeki yang lain. Waktu luang pacaran, luntang-lantung kemana-mana berdua misalnya. Rejeki dikasih kesempatan nyisihkan dana yang mestinya buat anak, tapi disalurkan untuk yang lain. Rejeki waktu luang yang berlimpah sehingga bisa mencoba ini itu, melakoni itu ini, membangun karir juga mungkin. Banyak sekali..

Adil tidak melulu berarti sama. Kami salah satu keluarga yang belum diberi kesempatan untuk nabung akhirat dalam bentuk menafkahi anak, tapi diberi kesempatan menabung surga dalam bentuk amalan lainnya. Termasuk menyayangi anak tetangga. Eh??!! 🙄

Lupakan lupakan. Hehe..

Sekarang coba kita tengok kehidupan Nabi Muhammad. Pada masa beliau, para kaum Arab sangat mengunggulkan anak laki-laki dan merasa sangat malu bila istrinya melahirkan anak perempuan.

Dan Sang Nabi? Beliau dianugerahi dua anak laki-laki dan beberapa anak perempuan. Namun putra-putra beliau, semua meninggal saat masih kecil. (Kurang lebih begitu. Selengkapnya, saya belum baca lagi buku siroh #EnsiklopediMuhammad untuk kroscek.)

Coba bayangkan bagaimana perasaan sang Nabi di tengah kultur masyarakat Arab yang seperti itu?

Jika orang biasa, sedih, kecewa, sakit hati? Bisa jadi. Tapi ini Sang Nabi. Beliau memang sedih, namun sama sekali tidak berkurang rasa syukur beliau pada Yang Kuasa.

Kalau sudah rejeki, sesuatu itu akan tetap datang pada si pemilik. Tapi jika bukan rejeki, dikejar ke ujung dunia pun tetap akan lolos juga.

Rejeki atau tidak rejeki, hanya Allah yang tahu. Dan manusia, tugasnya adalah bersyukur atas rejekinya.

Oh ya, yang ingin pesan Ensiklopedi Muhammad atau #SeriTeladanRasul bisa ke saya ya.. Ke 089679445360. Selalu ada promo seru lho.. Terima kasih. 😘

~ Jayaning Sila ~

#riseteam #EnsiklopediMuhammad #SeriTeladanRasul #Mizan #Bukuanak #anakpintar #montessori #bukuwajibkeluargamuslim #keluargaindonesia #book #specialgift #bestgift #muhammad #afzalurrahman #nabi #sahabat #jayaningsila #sirohnabi

Iklan

Stok Keberanian

IMG_20180727_202637_820.jpg

Tiap orang butuh punya stok keberanian, entah berada kadarnya. Ada yang butuh banyak, ada yang butuh sedikit.

Untuk apa?
Ya untuk banyak hal, tergantung dari peran orang tersebut di keluarga dan di masyarakat.

Kalau dia seorang pemimpin, paling tidak dia butuh untuk bisa mengendalikan orang-orang yang dipimpinnya, juga untuk menentukan keputusan atas situasi yang dihadapi.

Kalau dia seorang ibu, butuh keberanian yang besar untuk melepaskan para buah hatinya untuk mandiri. Jangan dikira mudah ya melepaskan seorang anak untuk masuk TK. Si anak yang biasanya kemana-mana sama kita, kalau ada yang nakal kita bisa bantu, tiba-tiba kita harus lepas di antara teman-temannya sendirian.
Menenangkan diri sendiri dan memberikan kepercayaan kalau anak kita mampu beradaptasi dengan sekolah dan tekan-temannya. Walaupun cemasnya setengah hidup ya..

Ya, karena kita sebagai orang tua memang nggak bisa terus-terusan menghandel urusan anak kita, rasanya sangat perlu untuk membekali mereka dengan sikap pemberani.

Bagaimana caranya menanamkan keberanian?
Motivasi dari orang tua, contoh dari orang tua, kisah-kisah tentang keberanian para tokoh besar, dan buku cerita.

Kenapa buku cerita?
Anak-anak lebih banyak menyerap teladan dari kisah-kisah yang ia dengar atau baca.

Karena pentingnya sikap pemberani dan harus punya stok keberanian yang banyak, perlukah kiranya kita tanamkan ini sejak kecil.

Sejak balita bisa?
Bisa. Dengan #akuanakpemberani di seri #HaloBalita bisa banget itu jadi pilihan.

~ Jayaning Sila~
089679445360

#riseteam

Membentuk Bounding antara Anak dan Orang Tua

IMG_20180725_200545_968

Masih tentang orang tua dan kasih sayang. Bagaimana caranya membangun bounding antara anak dan orang tua?

Mungkin yang sudah punya anak lebih tahu ya caranya membangun bounding dari sudut pandang orang tua. Dan berhubung saya belum ada anak, sudut pandang saya sebagai anak saja. Kali ini saya berbagi pengalaman saya bersama keluarga.

Menikah, bijaksananya tidak hanya pernikahan antara seorang lelaki dan seorang perempuan. Namun juga penyatuan istri dengan keluarga sang suami, demikian juga sebaliknya.

Bagaimana membangun bounding anak dengan ’orang tua ketemu gede’ ini?

Rumus dasar untuk membentuk ikatan (bounding) adalah kasih sayang dan perhatian.

Coba lihat, mana ada orang pacaran kalau tidak ada rasa sayang? Minimal rasa ‘klik’ sebelum sampai ke fase sayang.

Antara anak dan orang tua? Jelas ada juga kasih sayang itu. Ya walaupun bentuk kasih sayang antara pasangan dengan kasih sayang antara ortu dan anak berbeda sih.

Dan membangun bounding ini caranya bagaimana?
Ya itu tadi, menumbuhkan perhatian dan kasih sayang.

Contohnya begini. Saya dengan keluarga mertua tidak pernah saling kenal sebelum saya dan calon suami memutuskan untuk berkomitmen. Sekarang keluarga suami ya keluarga saya juga.
Apa yang saya lakukan dengan kondisi ini?
Mulai menjalin kasih sayang melalui perhatian. Mulai menyediakan waktu untuk hadir di acara-acara keluarga suami.

Nggak takut dibilang cari perhatian? Sok berusaha dekat?
Nggak itu. Prinsip saya, yang dilakukan dengan hati akan sampai di hati. Lagipula hadir di acara keluarga – karena menganggap keluarga suami adalah keluarga saya juga – adalah hal yang wajar.

Bounding anak ke orang tua sudah. Lalu membangun bounding dari orang tua ke anak?
Kalau anaknya masih balita sih, pakai #HaloBalita yang #akusayangkeluargaku bisa itu jadi alternatif.

 

~ Jayaning Sila ~

#riseteam #bounding #psikologianak #psikologikeluarga

Islam Agama Damai, Bukan Agama Teror

Review #EnsiklopediMuhammad 3
Melihat pemberitaan pemboman di beberapa tempat di Surabaya dan Sidoarjo, sedih hati saya. ada apa sebenarnya hingga beberapa orang yang secara fisik merepresentasikan Islam – dengan kerudung lebar – malah melakukan suatu hal yang tidak dibenarkan dalam Islam.
Saat inipun saya tidak antipati dengan orang-orang yang berjilbab lebar, beberapa kawan dekat saya juga berjilbab lebar. Saya hanya tidak habis pikir.
Ada yang bilang mereka alumni ‘Suriah’. Ada yang memberitakan bahwa salah satu pengebom yang masih duduk di bangku sekolah, ketika guru bertanya apa cita-citanya ‘Mati Syahid’. Saya sengaja browsing dan menemukan berita ‘ditemukan buku yang mengajarkan teror di kota X’.
Saya jadi berfikir, apa mereka belajar dari buku yang benar tentang Islam? Yang ditulis oleh seorang yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw yang benar-benar lurus? Seorang Ahlu Sunnah?
Saya belum banyak membaca siroh Nabi saw, hanya #EnsiklopediMuhammad dan yang diajarkan oleh para asatidz-asatidzah di sekolah saya dulu – Pondok Assalaam. Memang yang lebih banyak saya ingat adalah yang ada di buku #EnsiklopediMuhammad, karena saya punya bukunya dan baru-baru ini saya baca. Dan saya tetap pada kesimpulan saya, Islam agama damai.
Sejauh yang saya baca Nabi #Muhammad selalu mengusung misi damai dalam segala hal, meskipun dalam tiap peperangan dan pendudukan yang beliau lakukan. Salah satu contohnya dalam pendudukan kota Makkah – Fathul Makkah, beliau mengatakan ‘Yang berlindung di Masjidil Haram, aman. Yang berlindung di rumah …, aman. Yang menutup pintu rumahnya, aman.’ Yang saya kosongi itu, saya lupa siapa namanya. Dan memang mereka tidak diganggu.
Ketika melakukan peperangan dan musuh kalah, sehingga Nabi mendapatkan banyak tawanan, Rasulullah tidak pernah menyakiti para tawanan. Keluarga dari para tawanan tersebut dipersilahkan untuk menebusnya. Yang bisa baca tulis tapi tidak sanggup menebus, diminta membayar tebusan dengan mengajari 10 orang muslim membaca dan menulis. Dan yang tidak punya keluarga atau tidak punya uang untuk menebus, dibebaskan tanpa syarat apapun.
“Aku tahu mereka hanya punya sangat sedikit makanan. Tapi mereka memberikan roti-roti mereka pada kami. Dan mereka mencukupkan diri dengan sedikit yang tersisa.” Salah seorang menerangkan demikian perlakuan para sahabat terhadap mereka saat mereka ditawan.
Yang saya paparkan di atas dalam kondisi perang. Dalam kondisi perang saja, Rasulullah dan para sahabat sedemikian menghargai terhadap orang lain bahkan terhadap musuhnya. Apalagi kondisi damai. Lalu orang yang sedikit-sedikit mainan bom ini mengikuti ajaran yang mana?
Suatu ketika Rasul berdakwah pada penduduk Thaif, mereka menolak seruan Rasul, menghinanya dan melemparinya dengan batu. Apakah Rasulullah mendendam dan membalas perlakuan buruk mereka? Tidak, Rasulullah hanya berdoa meminta kesabaran dan kekuatan dari Allah.
Lalu yang sedikit-sedikit marah, dendam lalu bom-boman itu ikut ajaran siapa?
Rasulullah seorang yang amat sabar. Kalau sedikit-sedikit marah, dendam, lalu bom-boman, apa iya bisa menunjuk diri mengikuti pribadi Rasul yang sangat sabar ini?
Rasulullah sudah dijamin Allah terjaga dari dosa. Jika ada kesalahan para perilaku umatnya, belum tentu itu menunjukkan Islam itu salah atau Rasul itu salah. Itu salah pemeluknya.
Semoga semakin banyak yang belajar dari Siroh Nabi yang benar-benar ditulis dan merujuk pada kaum Sunni, bukan hanya Ustadz Youtube atau Ustadz Google saja.
Surabaya, 15 Mei 2018
Jayaning Sila, Book Advisor MDS
with Herdian Akbar Adt, Widi Suharto Moedjadi, Rismiyati Suharto, Yor Hananta Suharto, Liris Purwa Maharsi, Mawardi Dewantara Wibi
#RISETeam #NulisTanpaCopas #11 #jayaningsila #EnsiklopediMuhammad

Kisah Cinta Khadijah dan Muhammad, Romantisme Idaman Sepanjang Jaman

Review #EnsiklopediMuhammad 1
KISAH CINTA KHADIJAH : MUHAMMAD, ROMANTISME IDAMAN SEPANJANG ZAMAN

Pernah dengar kisah Laila Majnun atau Romeo Juliet? Atau yang lebih kekinian, kisah Rangga dan Cinta dalam Film Ada Apa Dengan Cinta, atau kisah Dylan dan Milea dalam novel Dylan? Sudah pada tahu semua kan ya?

Setelah mengerti jalan kisah mereka, sepintas pasti membatin, ‘Sampai segitunya ya mencintai kekasih. So sweet bangeeettt…’. Romantis banget itu. Ya kan pasti membatin begitu? Hehe..

Tapi, coba bandingkan dengan kisah cinta Khadijah dan Muhammad. Mana yang lebih romantis?
Menurut saya sih, kisah cinta Khadijah dan Muhammad tidak kalah romantis. Hanya saja tidak dramatis,
Oh ya? Menyimpulkan begitu darimana? Harus ada alasannya lah.
Iya, pasti alasan di balik tiap putusan. Oke, sekarang kita bahas saja ya..

Merunut pemahaman umum tentang kisah cinta romantis, biasanya kisah disebut romantis jika ada kesetiaan yang luar biasa atau pengorbanan yang wow banget. Semacam ‘apapun kulakukan untukmu’ atau ‘kau segalanya bagiku. Tanpamu aku tak berarti’.

Laila Majnun atau kisah cinta Laila dan Qais bagaimana? Ada kesetiaan luar biasa di dalamnya. Laila dan Qais yang berpisah karena tidak adanya restu dari keluarga, Laila yang kemudian meninggal dalam kesedihan karena tak mampu berpisah, Qais yang memilih terus menunggui makam Laila sambil menulis puisi-puisi cinta. Qais melupakan kehidupan di luar makam Laila dan iapun akhirnya meninggal di dekat makam Laila. Dramatis? Banget.

Romeo Juliet? Hampir sama, akhirnya sama-sama meninggal dengan alasan cinta. Keduanya sama-sama tentang kesetiaan yang luar biasa, lebih dari yang dijalani orang-orang kebanyakan. Walaupun agak agak nggak masuk akal. Menurut saya lho ya..

Rangga dan Cinta dalam AADC 1 dan AADC 2 mempertunjukkan kisah cinta yang lebih realistis. Dan yah, lagi-lagi masih berbicara tentang kesetiaan dan pengorbanan.
Adakah pesan-pesan lainnya? Ya itu, kesetiaan dan pengorbanan demi cinta.

Bagaimana dengan kisah Khadijah dan Muhammad? Saya akan cuplik beberapa bagian yang saya baca dari #EnsiklopediMuhammad. Pertama, saat Muhammad pulang dalam keadaan takut, syok, dan gemetaran setelah menerima wahyu pertama. Muhammad menceritakan kejadiannya, dan apa yang dilakukan Khadijah? Ia menenangkan dan percaya. Ia menerima dan percaya apapun yang dikatakan suaminya.
Bagi seorang yang sedang kebingungan karena mengalami hal yang mistis seperti ini, penerimaan dan kepercayaan pasangan sangatlah penting.

Bayangkan ketika kita baru saja mengalami suatu hal yang gaib seperti ini, lalu kita bercerita pada pasangan dan pasangan malah menganggap kita mengada-ada atau malah menyebut kita sedang berhalusinasi, bagaimana rasanya?
Bisa jadi sakit hati, sedih, kecewa. Ibaratnya kita membatin, ‘Dia sudah kenal saya luar dalam, dan saya tidak berbohong, bagaimana mungkin dia menyepelekan apa yang saya katakan padanya?’. Mungkin akan sempat terbersit ‘Ternyata dia tidak memahami saya’. Mungkin ya..

Atau misalnya kita punya sebuah rencana yang menurut kita luar biasa. Kita bercerita pada pasangan dengan harapan pasangan akan mendukung, eh ternyata gayung tak bersambut. Bagaimana rasanya?

Dan pada Muhammad, peristiwa ini terjadi berkali-kali. Keputusan Khadijah untuk tetap percaya dan selalu percaya saya yakin bukanlah suatu hal yang mudah. Ini bukan hanya tentang ‘Muhammad yang selalu jujur’, tapi juga mengenai ‘mempercayai hal yang berbeda dari yang diyakini masyarakat sekitarnya’. Saya menyebutnya komitmen penuh seorang istri.

Momen lain yang benar-benar membekas adalah ketika orang-orang kafir memboikot Muhammad dan seluruh sukunya. Bahkan Khadijah jatuh sakit karena oran kafir memutus pasokan makanan. Dan apakah Khadijah memutuskan berpaling dari suaminya dalam situasi sulit itu? Tidak. Komitmen ya komitmen. Bersama dalam suka dan duka. Saling setia.

Ada satu momen lagi yang sangat membekas dalam ingatan saya, yaitu saat Muhammad memutuskan untuk menfokuskan seluruh waktu pada dakwah Islam. Rasulullah meninggalkan sebagian besar aktivitas perdagangannya, dan otomatis kembali pada Khadijah lah pengelolaan keuangan keluarga mereka. Rasul melakukan berbagai aktivitas dakwah, memerdekakan budak, tentunya membutuhkan biaya. Darimana biaya itu? Kekayaan keluarga Muhammad dan Khadijah.

Komitmen ya komitmen. Segala yang kau butuhkan untuk perjuanganmu, selama aku masih bisa berikan maka akan kuberikan untukmu. Benar-benar segalanya.

Kita tahu bagaimana sederhananya kehidupan Muhammad dan keluarganya. Karena memang yang mereka korbankan memang sudah segalanya.

Sekarang kita tahu, kisah cinta Muhammad tidak hanya melulu tentang pengorbanan demi cinta dan saling setia, tapi juga tentang dakwah, kepercayaan, komitmen, dukungan, serta semboyan dalam suka dan duka.

Jadi saya rasa, #EnsiklopediMuhammad – buku siroh Nabi – adalah buku wajib dalam berumah tangga. Selamat membaca.

Lanjutkan membaca “Kisah Cinta Khadijah dan Muhammad, Romantisme Idaman Sepanjang Jaman”

Memang Benar, Apa yang Kita Baca Mempengaruhi Diri Kita

Memang benar, apa yang kita baca, apa yang kita tonton, akan mempengaruhi diri kita.

Mempengaruhi dalam hal apa?
Mempengaruhi cara berfikir kita, cara pengambilan keputusan, sikap, dan banyak aspek lain dalam hidup kita.
Dua hari kemarin, saya dan suami sempat patah semangat. Proses insem kali ini berbeda dari yang pertama. Yang pertama, sekitar 15 menit dan selesai. Kali ini proses berlangsung 30 menit entah lebih. Dengan beberapa kali dokter meminta perawat mengambilkan peralatan di luar ruangan. Mungkin prosedur insem standar tidak menggunakan alat tersebut. Tiba-tiba dibutuhkan.

Proses kali ini sakit, lama, dan sulit.

“Kalau tidak berhasil, nanti kita histeroskopi ya Bu, untuk melihat apa yang menghalangi.’
Padahal histekoskopi itu, fuuuhh..

Proses selesai, saya diminta berbaring 1 jam. Suami yang baru masuk setelah dokter keluar, mendengarkan cerita saya tentang proses insem tadi.
Perasaan kami sama, sedih, kecewa, bingung, tidak paham mengapa jadi begini.

Bagaimana ya, saya cuma.. ya sudahlah. Mungkin kami hanya butuh waktu untuk menerima, dan alasan untuk terus berjalan.

Ingin menyerah? Ya. Tapi berfikir untuk menjalankan ‘menyerah’ itu saya malu. Malu pada Rasulullah. Dalam #ensiklopedimuhammad yang saya baca beberapa bulan lalu, dikisahkan bahwa Muhammad dijuluki sebagai Al Amin dan As Shiddiq oleh warga Makkah. Namun ketika beliau mulai mendakwahkan Islam, hampir semua orang di Makkah mengingkari beliau. Dihujat, diboikot, dilempari.

Apakah beliau menyerah? Tidak.

Apakah beliau mendendam? Tidak.
Beliau bersabar dan tetap gigih berdakwah.

Jadi, siapa yang saya ikuti kalau saya semudah ini tumbang?

Teringat Nabi Ayyub yang kaya raya. Beliau dicoba dengan diambil kembali seluruh hartanya, putra-putra beliau semua meninggal, dan beliau menderita sakit kulit yang tak kunjung sembuh dan berbau busuk.

Apakah beliau menghujat Yang Kuasa karena cobaan ini? Tidak.

Apakah beliau kehilangan kesabaran? Tidak. Beliau tetap berprasangka baik pada Allah.

Jadi, siapa yang saya ikuti kalau saya sampai kehilangan kesabaran dan menghujat… Ah sudahlah.

All is well, all is well (film #3Idiots). Bersama kesulitan ada kemudahan. Menabahkan hati..

Ya memang, apa yang kita baca, apa yang kita tonton akan mempengaruhi diri kita.

Mempengaruhi dalam hal apa? Kali ini mempengaruhi cara berfikir saya dan tolak ukur saya terhadap masalah. Apa yang saya baca dan saya tonton, hal yang positif itu, membantu saya lebih arif menyikapi masalah.

Lalu bagaimana sekarang?
Tiga hari berselang, kami lebih tenang, sudah lebih siap menerima hasil akhirnya bulan depan. Bismillah. 😊

— Jayaning Sila, Book Advisor —
https://bit.ly/2q77l4N , atau 089679445360

#RISETeam #nulistanpacopas #3 #ensiklopedimuhammad #sirohnabi #nabikuidolaku #arisanbukumurah

Cerita tentang Suami dan Menepati Janji

Aslinya malu kalau mau cerita-cerita yang romantis. Tapi … yo wes nggak apa-apalah..

4 tahun yang lalu, di malam yang panas – ya karena Balikpapan memang lebih sering panas – ada telpon masuk dari nomer tak dikenal.

Saya angkatlah. Ternyata seorang kawan lama. Ngobrol-ngobrol, lalu terungkaplah alasan tiba-tiba dia telpon. Dia mau nelpon temannya yang dimintai tolong mencarikan calon istri, tapi temannya nggak ngangkat. Jadi dia nelpon siapa saja yang lagi free. (Ternyata dia nggak niat mau nelpon saya sodara… saya cuma cadangan.. 😅)

Ya sebagai teman, saya usahalah menenangkan dia. Saya bilang, ‘Nggak apa-apa. Sambil jalan bisa sambil nyari. Teman kita masih banyak juga yang belum nikah. Si A, si B, si C. Aku juga masih nyari. Nggak usah sedih-sedih banget gitu.’
Teman : ‘Gitu ya?’
Saya : ‘Iya, jadi santai aja…’
T : ‘Emm.. Kamu mau nggak nikah sama saya?’
S : ‘Hee??!!’
(Goblog ndandak.. Nggak tahu mau jawab apa. 😅😅)

Akhirnya saya bilang, ‘Aku ini masih PKL di Balikpapan. Belum bisa ngasih keputusan ya. Ya kemungkinan bulan Maret atau menjelang itu kita omongin lagi. Nggak apa-apa kan?’
T : ‘Iya, nggak apa-apa.’

Awal Februari 2014, tiba-tiba teman saya ini sms, ‘Saya sudah bilang orang tua saya gimana kalau saya nikah sama kamu..’
What..??!! 😱😱
Saya kelabakan, kelimpungan, nggak nyangka dia sudah ngomong ke orang tua. Saya musti gimana..

Beberapa bulan berselang, saya tanya ke dia, ‘Kamu dulu kenapa kok ngubungi aku lagi? Padahal kan kita udah nggak pernah kontak 6 tahun. Pas kuliah kita juga nggak akrab.’
T : ‘Ya nggak apa-apa. Laki-laki itu yang dipegang omongannya. Aku kan udah janji buat hubungi kamu menjelang Maret, ya kuhubungi.
Kalau nggak bisa dipegang omongannya ya bukan laki-laki itu namanya.’
S : ‘Oo…’
Seketika saya terpesona.. 😍🤩🤩

Yah, laki-laki itu yang dipegang omongannya. Janjinya. Saya menyebutnya sebagai laki-laki yang punya prinsip serta integritas. Kalau menurut saya sih, ‘spesies laki-laki langka’ seperti harus diperbanyak.. hehe..

Pikiran saya sederhana. Banyak persoalan yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh banyak orang kurang mampu menjaga janjinya. Rakyat yang kecewa karena para wakilnya tak menepati janji selama kampanye contohnya.

Saya teringat buku #ensiklopedimuhammad yang jilid #muhammadsebagaipribadimulia. Rasul pernah berjanji dengan seseorang akan menunggu di suatu tempat untuk menyelesaikan urusan mereka. Orang itu kemudian pulang, beraktifitas seperti biasa. Orang itu baru teringat janji mereka tiga hari kemudian. Dan ketika orang itu datang ke tempat yang diperjanjikan, Rasul berkata ‘Engkau sudah membuatku gelisah menunggu di sini selama tiga hari’.

Saya rasa, buku #ensiklopedimuhammad ini adalah salah satu buku wajib saya untuk anak-anak saya kelak.

Ada yang berpendapat sama? Sharing yuk..

— Jayaning Sila, Book Advisor —
http://bit.do/Jayaningsila_buku_anak

Lanjutkan membaca “Cerita tentang Suami dan Menepati Janji”